banner 728x250

Kemarau Panjang Tekan Pasokan, Harga Rica di Pohuwato Naik Jadi Rp150 Ribu per Kilogram

banner 120x600
banner 468x60

SUARAPOST.ID — Harga sejumlah bahan pokok di Kabupaten Pohuwato kembali mengalami kenaikan. Kondisi tersebut terjadi di tengah kemarau panjang yang masih melanda wilayah Pohuwato dan mulai berdampak terhadap ketersediaan komoditas pertanian.

Berdasarkan hasil monitoring harga bahan pokok pada Selasa (1/9/2026), kenaikan paling mencolok terjadi pada komoditas cabai.

Harga cabai rawit yang sebelumnya berada di kisaran Rp140 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp150 ribu per kilogram. Sementara cabai keriting juga mengalami kenaikan dari Rp90 ribu menjadi Rp100 ribu per kilogram.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop UKM) Kabupaten Pohuwato, Ibrahim Kiraman, mengatakan kenaikan harga cabai tidak terlepas dari terbatasnya stok di tingkat petani lokal.

Menurutnya, kondisi kemarau panjang turut memengaruhi produksi pertanian sehingga pasokan cabai dari petani Pohuwato belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.

“Untuk cabai rawit, stok dari petani lokal saat ini terbatas. Sementara pasokan dari luar daerah masih dalam proses distribusi dan belum sepenuhnya masuk ke pasar Pohuwato,” ujar Ibrahim saat diwawancarai awak media, Selasa (1/9/2026).

Tak hanya cabai, harga beras juga dilaporkan mengalami kenaikan. Di pasaran, harga beras kini menyentuh sekitar Rp15 ribu per kilogram, atau berada pada kisaran Rp13 ribu hingga Rp14 ribu per liter.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena kenaikan harga bahan pokok berpotensi menekan daya beli masyarakat sekaligus memberikan tekanan terhadap pengendalian inflasi daerah.

Ibrahim mengatakan Pemerintah Kabupaten Pohuwato telah menyiapkan langkah intervensi untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan kebutuhan masyarakat tetap tersedia dengan harga yang lebih terjangkau.

Pemkab Pohuwato, kata dia, telah mengajukan permohonan kepada Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk pelaksanaan Pasar Murah dan Pasar Pangan Murah.

Program tersebut nantinya akan memprioritaskan komoditas yang mengalami kenaikan harga, termasuk cabai rawit, serta sejumlah kebutuhan pokok lainnya.

“Pemerintah daerah sudah mengajukan ke pemerintah provinsi untuk pelaksanaan pasar murah dan pasar pangan murah. Cabai rawit akan menjadi salah satu komoditas yang diprioritaskan,” jelasnya.

Langkah intervensi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat menghadapi kenaikan harga sekaligus menjaga agar gejolak harga bahan pokok tidak berlangsung lebih lama.

Di tengah kemarau yang belum sepenuhnya berakhir, stabilitas pasokan menjadi pekerjaan penting bagi pemerintah. Sebab, ketika produksi petani terganggu dan distribusi dari luar daerah belum lancar, harga komoditas pangan sangat mudah terdorong naik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *