banner 728x250

Dari Kursi Sekda ke Bursa Rektor, Hikman Katohidar dan Masa Depan Unipo

banner 120x600
banner 468x60

SUARAPOST.ID— Bursa Pemilihan Rektor Universitas Pohuwato (Unipo) periode 2027-2031 mulai memasuki babak yang menarik. Jumat (28/8/2026), Wakil Rektor I Unipo, Hikman Katohidar, mengambil formulir pendaftaran sebagai bakal calon rektor.

Langkah itu sekilas terlihat sebagai prosedur biasa dalam sebuah kontestasi pemilihan pimpinan perguruan tinggi. Namun, jika ditarik lebih jauh, pencalonan Hikman membawa satu pertanyaan penting: sejauh mana pengalaman panjang di birokrasi pemerintahan dapat diterjemahkan menjadi kekuatan untuk membangun sebuah institusi pendidikan tinggi?

Pertanyaan itu relevan karena Hikman bukan nama baru dalam panggung pemerintahan Kabupaten Pohuwato.

Jauh sebelum berada di lingkungan kampus, Hikman merupakan salah satu birokrat yang pernah menduduki posisi strategis di Pemkab Pohuwato. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Pohuwato pada era kepemimpinan Bupati Zainudin Hasan selama sekitar tiga tahun, kemudian melanjutkan pengalaman birokratisnya pada masa kepemimpinan Bupati Syarif Mbuinga selama sekitar dua tahun.

Kariernya di dunia pemerintahan kemudian ditutup dengan jabatan sebagai Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Pohuwato sebelum memasuki masa pensiun dari birokrasi.

Rekam jejak tersebut tentu tidak serta-merta menjadi tiket otomatis menuju kursi rektor. Sebab, memimpin perguruan tinggi berbeda dengan memimpin birokrasi pemerintahan.

Kampus memiliki karakter yang lebih kompleks. Di dalamnya ada dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, organisasi mahasiswa, dunia penelitian, tuntutan akreditasi, hingga kebutuhan membangun jejaring akademik yang lebih luas.

Karena itu, tantangan terbesar bagi seorang calon rektor bukan sekadar mampu mengelola organisasi, melainkan mampu membawa kampus keluar dari rutinitas administratif menuju tradisi akademik yang produktif dan kompetitif.

Di titik inilah pengalaman Hikman di birokrasi menarik untuk diuji.

Pengalaman bertahun-tahun mengelola pemerintahan setidaknya memberi modal dalam hal manajemen organisasi, pengambilan keputusan, koordinasi lintas sektor dan membaca kebutuhan pembangunan daerah. Tetapi modal tersebut baru akan berarti jika mampu diterjemahkan ke dalam bahasa kampus: mutu pendidikan, kualitas lulusan, penelitian, pengabdian masyarakat dan penguatan sumber daya manusia.

Menariknya lagi, perjalanan Hikman tidak berhenti pada birokrasi. Setelah menyelesaikan masa pengabdiannya sebagai aparatur, ia juga memilih jalan baru dengan menyandang profesi advokat.

Perpindahan dari birokrasi menuju dunia hukum, kemudian masuk ke lingkungan perguruan tinggi, menunjukkan satu hal: perjalanan karier Hikman tidak berada dalam satu lorong yang sama.

Justru keberagaman pengalaman itu yang akan menjadi menarik apabila ia benar-benar membawa pencalonannya ke tahap berikutnya.

Namun, publik kampus tentu tidak cukup hanya disuguhi daftar jabatan dan pengalaman.

Unipo membutuhkan gagasan.

Kampus membutuhkan rektor yang tidak hanya pandai mengurus administrasi, tetapi juga mampu menjawab pertanyaan besar: hendak dibawa ke mana Unipo dalam empat tahun ke depan?

Apakah Unipo akan diperkuat sebagai kampus yang menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia Pohuwato? Apakah riset-riset kampus akan diarahkan untuk menjawab persoalan daerah seperti pertanian, pertambangan, lingkungan, ekonomi dan kemiskinan? Bagaimana kualitas dosen dan mahasiswa ditingkatkan? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana lulusan Unipo memiliki daya saing ketika berhadapan dengan dunia kerja?

Semua pertanyaan itu pada akhirnya akan bermuara pada visi dan misi calon rektor.

Hikman sendiri belum membuka secara rinci program yang akan ditawarkan. Usai mengambil formulir di Sekretariat Panitia Pelaksana Pemilihan Rektor Unipo, Jumat (28/8/2026), ia menyatakan kesiapan untuk maju dan berkontribusi terhadap kemajuan pendidikan di Kabupaten Pohuwato.

“Saya menyatakan diri siap maju. Insyaallah saya akan maju demi memajukan pendidikan di Kabupaten Pohuwato.”

Pernyataan itu menjadi pembuka dari sebuah pertarungan gagasan yang masih panjang.

Hikman mengambil formulir, tetapi yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan bukan sekadar formulir pencalonan. Yang akan diuji adalah kemampuan mengubah pengalaman menjadi gagasan, gagasan menjadi program, dan program menjadi perubahan nyata bagi Unipo.

Pemilihan Rektor Unipo periode 2027-2031 pun layak dilihat bukan hanya sebagai pergantian figur di kursi pimpinan kampus.

Ini adalah momentum untuk menentukan arah sebuah institusi pendidikan tinggi di daerah.

Dan bagi Hikman Katohidar, pengalaman panjang di birokrasi, pengalaman sebagai advokat, serta keterlibatannya di lingkungan Unipo kini bertemu pada satu persimpangan: apakah semua pengalaman itu cukup untuk melahirkan kepemimpinan baru bagi Unipo?

Jawabannya tentu bukan berada pada masa lalu.

Jawabannya akan terlihat dari visi yang ditawarkan dan keberanian untuk membuktikannya.

Sebab pada akhirnya, kampus tidak hanya membutuhkan seorang administrator.

Kampus membutuhkan seorang pemimpin yang tahu ke mana harus melangkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *