SUARAPOST.ID – Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Bulangita–Teratai, Kabupaten Pohuwato, kembali menuai sorotan. Kali ini, keluhan datang dari warga Palopo yang mengaku menjadi pihak paling terdampak akibat banjir dan material lumpur yang kerap masuk ke permukiman setiap kali hujan mengguyur.
Bagi warga, persoalan tersebut bukan sekadar gangguan lingkungan. Banjir yang berulang kali terjadi disebut telah menyebabkan kerusakan rumah dan memaksa mereka mengeluarkan biaya perbaikan hingga puluhan juta rupiah.
Salah seorang perwakilan warga berinisial SS mengaku masyarakat sudah terlalu lama menanggung dampak aktivitas pertambangan tanpa adanya perhatian yang nyata.
“Sudah terlalu lama kami bersabar. Untuk memperbaiki rumah saja kami sudah mengeluarkan puluhan juta rupiah. Setiap kali banjir dan lumpur masuk ke rumah, kami harus memperbaikinya lagi,” ujar SS.
Ia menuturkan, setiap musim hujan warga selalu diliputi rasa cemas, terutama pada malam hari. Mereka khawatir air tiba-tiba meluap dan masuk ke dalam rumah saat keluarga sedang beristirahat.
“Kalau malam kami tidak bisa tidur tenang. Takut tiba-tiba air masuk rumah. Kami punya anak kecil dan barang-barang yang harus diselamatkan,” ungkapnya.
Menurut SS, pada awal aktivitas pertambangan berlangsung, masyarakat sempat dijanjikan akan mendapat perhatian apabila aktivitas tambang telah berjalan dan menghasilkan.
Namun, setelah kegiatan pertambangan berkembang, janji tersebut dinilai tidak pernah diwujudkan.
“Dulu mereka bilang kalau pekerjaan di atas sudah berjalan baik dan sudah ada hasil, masyarakat yang terdampak di bawah akan diperhatikan. Tapi sekarang mereka sudah menikmati hasilnya, kami justru seperti ditinggalkan,” katanya.
Kekecewaan warga, lanjut SS, semakin bertambah ketika upaya meminta bantuan saat banjir terjadi tidak mendapat respons dari pihak-pihak yang dihubungi.
“Satu per satu kami hubungi untuk meminta bantuan menangani banjir, tetapi tidak ada satu pun yang merespons,” tegasnya.
Selain itu, warga juga mempertanyakan keberadaan dana yang disebut-sebut dikumpulkan untuk membantu masyarakat terdampak aktivitas PETI Bulangita–Teratai.
SS mengaku mendengar adanya pengumpulan dana tersebut. Namun, hingga kini dirinya mempertanyakan siapa yang mengelola, bagaimana mekanisme penyalurannya, serta siapa saja yang menerima manfaatnya.
“Yang kami dengar, yang mengumpulkan dana untuk masyarakat terdampak justru orang yang tidak pernah merasakan dampaknya. Lalu uang itu ke mana? Kami yang benar-benar terdampak tidak pernah merasakan bantuan tersebut,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait turun langsung meninjau kondisi di lapangan agar dapat melihat dampak yang selama ini mereka alami.
Mereka juga meminta adanya transparansi apabila benar terdapat dana yang dihimpun atas nama masyarakat terdampak, termasuk kejelasan mengenai pihak yang mengelola dan penerima manfaatnya.
“Jangan hanya mereka yang di atas menikmati hasil. Kami yang tinggal di bawah juga manusia. Kami punya rumah, punya anak, dan kehidupan yang harus dilindungi. Kalau memang ada dana untuk masyarakat terdampak, tolong dibuka secara transparan ke mana dana itu disalurkan dan siapa yang menerimanya,” pungkas SS.
Masyarakat kini berharap pemerintah dan aparat penegak hukum mengambil langkah konkret untuk memastikan aktivitas PETI tidak terus menimbulkan dampak lingkungan maupun kerugian bagi warga yang bermukim di sekitar kawasan pertambangan.
Catatan Redaksi: Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak-pihak yang disebut dalam penyampaian warga mengenai dugaan pengelolaan dana tersebut. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi sebagai bentuk penerapan prinsip keberimbangan serta keberimbangan informasi dalam pemberitaan.




















