SUARAPOST.ID – Ada sebuah kearifan lama yang mengatakan bahwa sungai adalah ibu dari sebuah peradaban. Di Taluduyunu, kearifan itu sedang diuji. Sedimen yang mengendap di Bendungan Taluduyunu bukan sekadar material lumpur dan pasir — ia adalah simbol dari tantangan zaman yang menuntut semua pihak untuk duduk bersama dan mencari solusi. Dan di tengah tantangan itu, hadirlah YR Tim dengan sebuah jawaban yang sederhana namun bermakna luar biasa.
Kegiatan pengerukan sedimen yang diprakarsai YR Tim di Bendungan Taluduyunu telah memasuki babak yang lebih matang. Bukan hanya sekadar aksi insidental, program ini kini telah menjadi agenda rutin yang terstruktur dan berkesinambungan. YR Tim memahami bahwa masalah sedimentasi tidak bisa diselesaikan dalam semalam — ia membutuhkan komitmen jangka panjang, konsistensi, dan yang terpenting: kebersamaan semua pemangku kepentingan.
Salah satu terobosan paling bermakna dari program ini adalah berhasilnya YR Tim mempertemukan dua komunitas yang kerap dianggap memiliki kepentingan bertentangan: para penambang dan para petani. Di bawah koordinasi YR Tim, para penambang yang beroperasi di kawasan hulu sungai terlibat langsung dalam proses pengerukan. Mereka menyumbangkan keahlian teknis dan sumber daya mereka sebagai bentuk tanggung jawab terhadap dampak yang telah ditimbulkan aktivitas pertambangan terhadap sungai.
Ketua YR Tim, Jufrin, menuturkan bahwa proses mempertemukan kedua komunitas ini adalah perjalanan yang penuh tantangan namun juga penuh pembelajaran. “Awalnya memang ada keraguan dari kedua belah pihak. Petani merasa penambang adalah penyebab masalah, sementara penambang merasa mereka sudah menjalankan usaha sesuai aturan. Kami hadir di tengah-tengah untuk menunjukkan bahwa yang kita hadapi bukanlah musuh bersama, melainkan tantangan bersama,” kisah Jufrin.
Ia menambahkan bahwa ketika dua kelompok ini akhirnya bekerja berdampingan, sesuatu yang luar biasa terjadi. “Ada momen di mana seorang penambang meminjamkan alat kepada petani untuk membersihkan saluran irigasi miliknya. Di saat itulah saya sadar bahwa apa yang kami lakukan ini jauh lebih besar dari sekadar pengerukan sungai. Kami sedang membangun jembatan antara dua dunia yang selama ini saling curiga,” ungkap Jufrin dengan mata berbinar.
Dari hilir, para petani yang sawahnya langsung mendapat manfaat dari normalisasi ini tidak bisa menyembunyikan kegembiraan mereka. Aliran irigasi yang sebelumnya tersendat kini mulai mengalir lebih lancar. Beberapa petani melaporkan bahwa lahan mereka yang sebelumnya kekurangan air kini sudah mulai terairi dengan baik, memberi harapan baru bagi musim tanam yang akan datang.
Kisah dari Taluduyunu ini adalah cermin bagi kita semua — bahwa ketika manusia memilih untuk bekerja bersama demi alam yang lebih sehat, hasilnya melampaui ekspektasi teknis semata. YR Tim, dengan segala keterbatasannya sebagai organisasi kecil, telah menunjukkan kepada dunia bahwa perubahan nyata dimulai dari hati yang tulus, langkah kaki yang konsisten, dan tangan yang tidak takut untuk kotor demi kebaikan bersama.




















