banner 728x250

Gebrakan AKBP Busroni: Tambang Emas Ilegal di Pohuwato Tak Lagi Aman

banner 120x600
banner 468x60

SUARAPOST.ID – Angin perubahan kini benar-benar terasa di Pohuwato. Sejak AKBP Busroni resmi menjabat pada 12 Maret 2025, wajah penegakan hukum di wilayah ini tak lagi sama. Jika dulu pemberantasan tambang emas ilegal hanya sebatas wacana, kini berubah menjadi gerakan nyata—terukur, sistematis, dan meninggalkan dampak yang tak terbantahkan.

Pohuwato, yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik rawan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Sulawesi, perlahan keluar dari bayang-bayang aktivitas ilegal. Praktik tambang liar yang selama bertahun-tahun merusak lingkungan dan menggerus potensi negara kini mulai dipatahkan. Sungai yang tercemar, lahan pertanian yang rusak, serta deru alat berat di dekat permukiman—semua itu perlahan mereda.

Perubahan ini mencapai puncaknya dalam operasi besar yang berlangsung selama enam hari, 5–10 Januari 2026. Dalam waktu singkat, Polres Pohuwato bergerak cepat, menyisir titik-titik rawan tanpa memberi ruang bagi pelaku untuk bersembunyi. Hasilnya bukan sekadar simbolik—melainkan pukulan telak bagi jaringan PETI.

Dari desa ke desa, tim menemukan fakta mencengangkan: puluhan mesin alkon, generator, hingga excavator dari berbagai merek berhasil diamankan. Totalnya, 13 unit alat berat dan ratusan perlengkapan tambang ilegal disita. Ini bukan sekadar angka, tetapi bukti betapa masifnya aktivitas yang selama ini berlangsung diam-diam.

Namun strategi yang diterapkan tidak berhenti di lokasi tambang. Pendekatan yang diambil menyasar jantung persoalan: distribusi bahan bakar ilegal. Tanpa solar, mesin-mesin tambang tak akan bergerak. Dalam periode Januari hingga Februari 2026, empat kasus penyalahgunaan BBM berhasil diungkap, dengan total ratusan jerigen solar disita—memutus rantai pasokan yang selama ini menjadi nyawa operasi PETI.

Langkah tegas ini dilanjutkan hingga ke meja hijau. Sejumlah tersangka telah divonis, dengan hukuman penjara yang menjadi sinyal kuat bahwa praktik tambang ilegal bukan lagi pelanggaran yang bisa ditoleransi. Bahkan, alat berat hasil sitaan telah dilelang secara resmi—mengembalikan nilai ekonominya ke kas negara.

Di balik keberhasilan itu, terdapat tantangan yang tidak ringan. Medan sulit, akses terbatas, hingga jaringan informan pelaku yang kerap membocorkan pergerakan aparat menjadi hambatan nyata. Tidak jarang, petugas hanya menemukan lokasi yang sudah ditinggalkan. Namun hal itu justru mendorong peningkatan strategi—operasi yang lebih cepat, lebih senyap, dan sulit diprediksi.

Dampaknya kini mulai dirasakan masyarakat. Sungai yang dulu keruh mulai jernih, malam yang dulu bising kini kembali tenang. Rasa aman perlahan tumbuh, menggantikan kekhawatiran yang selama ini menghantui warga.

Keberhasilan ini bukan kebetulan. Ia lahir dari kombinasi perencanaan matang, pemetaan intelijen yang detail, operasi taktis yang fleksibel, serta penindakan yang menyasar seluruh ekosistem ilegal—dari alat berat hingga bahan bakar.

Lebih dari sekadar penertiban, apa yang terjadi di Pohuwato menjadi contoh bahwa persoalan PETI yang kompleks sekalipun bisa diatasi. Kuncinya sederhana namun krusial: kepemimpinan yang tegas, sistem yang berjalan, dan komitmen untuk menuntaskan setiap perkara hingga akhir.

Perjalanan memang belum selesai. Masih ada tersangka yang harus diproses, alat berat yang menunggu penyelesaian hukum, dan potensi ancaman yang belum sepenuhnya hilang. Namun satu hal sudah jelas—arah telah berubah.

Di bawah komando AKBP Busroni, Pohuwato tidak lagi menjadi tempat nyaman bagi tambang ilegal. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, hukum benar-benar hadir—bukan sekadar terlihat, tetapi terasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *