banner 728x250

Sawah Terkubur Lumpur, Petani Pohuwato Datang ke PENAS Mencari Keadilan

banner 120x600
banner 468x60

SUARAPOST.ID – Sejumlah petani dari Kecamatan Buntulia dan Duhiadaa, Kabupaten Pohuwato, rela meninggalkan aktivitas mereka di kampung demi menghadiri Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Kabupaten Gorontalo.

Kehadiran mereka bukan sekadar mengikuti kegiatan nasional tersebut, melainkan untuk menyuarakan nasib para petani yang kehilangan lahan produktif akibat sedimentasi yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Abdul Rahman Lukum, mengatakan dirinya bersama para petani berharap aspirasi mereka dapat didengar langsung oleh pemerintah pusat, bahkan jika memungkinkan sampai kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Menurut Abdul Rahman, persoalan sedimentasi yang diduga dipicu aktivitas pertambangan telah menyebabkan banyak areal persawahan di Buntulia dan Duhiadaa tidak lagi produktif. Akibatnya, ratusan petani kehilangan sumber penghidupan.

“Kami datang ke PENAS agar suara petani yang kehilangan mata pencaharian bisa didengar pemerintah pusat. Kami berharap ada perhatian dan solusi nyata terhadap kondisi yang kami alami,” ujar Abdul Rahman, Sabtu (20/6/2026).

Ia mengaku sempat berupaya menyampaikan langsung keluhan para petani kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka usai pembukaan PENAS. Namun kesempatan tersebut tidak didapatkan karena peserta yang naik ke panggung telah ditentukan sebelumnya.

“Kami berharap bisa menyampaikan langsung kondisi yang dialami petani di Buntulia dan Duhiadaa. Sayangnya kesempatan itu belum kami peroleh,” katanya.

Abdul Rahman menjelaskan, sedikitnya sekitar 100 petani terdampak akibat sedimentasi yang menutupi lahan persawahan mereka. Kondisi tersebut membuat sebagian petani tidak lagi menanam padi selama dua hingga tiga tahun terakhir karena hasil panen terus menurun dan tidak sebanding dengan biaya produksi.

“Ada yang sudah dua tahun, bahkan tiga tahun tidak lagi bertani. Hasil panen tidak sesuai harapan, sementara biaya dan utang terus bertambah. Kami tidak menyalahkan siapa pun, tetapi kami berharap ada solusi agar dampak yang kami rasakan bisa ditangani,” ungkapnya.

Keluhan serupa disampaikan Zulkifli Liputo, petani asal Kecamatan Buntulia. Ia mengaku sudah dua tahun meninggalkan usaha tani padi sawah karena lahan yang digarap tidak lagi mampu menghasilkan panen yang layak.

Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk mengalihkan lahan ke tanaman hortikultura seperti cabai. Namun hasilnya tetap tidak memuaskan karena kualitas tanah dinilai telah mengalami penurunan akibat sedimentasi lumpur.

“Saya sudah mencoba menanam berbagai jenis tanaman, termasuk cabai. Lahan yang sebelumnya ditanami padi saya alihkan ke hortikultura, tetapi hasilnya tetap tidak maksimal,” kata Zulkifli.

Para petani berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat segera turun tangan mencari solusi atas persoalan sedimentasi yang telah mengancam keberlangsungan sektor pertanian di wilayah Buntulia dan Duhiadaa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *