banner 728x250

Di Balik PETI Pohuwato: Ketika Suap Nasi Lebih Menakutkan dari Hukum

banner 120x600
banner 468x60

Penulis : Guslan Kaco anggota SMSI Pohuwato

SUARAPOST.ID , OPINI – Fenomena tambang emas ilegal (PETI) di Pohuwato bukan sekadar persoalan pelanggaran hukum, tetapi juga potret ketimpangan sosial dan ekonomi yang dibiarkan berlarut-larut. Di satu sisi, negara hadir dengan aturan dan penertiban. Namun di sisi lain, masyarakat kecil termasuk para pekerja kabilasa dipaksa bertahan hidup dengan apa yang sering disebut sebagai “suap nasi”.

Bagi pekerja kabilasa, tambang emas ilegal bukanlah simbol keserakahan, melainkan jalan sempit untuk bertahan hidup. Upah harian yang pas-pasan, risiko keselamatan yang tinggi, serta ketidakpastian kerja menjadi harga yang harus dibayar demi menyambung hidup keluarga. Mereka sadar aktivitas tersebut melanggar hukum, tetapi kemiskinan sering kali lebih menakutkan daripada ancaman pidana.

Ironisnya, dalam praktik PETI, yang paling keras merasakan dampaknya justru masyarakat kecil. Kerusakan lingkungan, tercemarnya sumber air, hingga konflik sosial terjadi di sekitar mereka. Sementara itu, aktor-aktor besar yang menikmati keuntungan kerap berada di balik layar, sulit disentuh hukum, dan jarang tersentuh penertiban secara adil.

Istilah “suap nasi” mencerminkan kenyataan pahit bahwa pekerjaan di tambang ilegal bukanlah pilihan ideal, melainkan keterpaksaan. Negara tidak bisa terus-menerus hanya mengandalkan pendekatan represif tanpa solusi alternatif. Penertiban memang penting, tetapi harus diiringi dengan kebijakan yang membuka lapangan kerja legal, pelatihan keterampilan, serta skema pertambangan rakyat yang jelas dan berkeadilan.

Jika tidak, siklus ini akan terus berulang. Tambang ilegal ditertibkan hari ini, muncul kembali esok hari, karena akar masalahnya kemiskinan dan minimnya akses ekonomi tidak pernah benar-benar diselesaikan.

Pohuwato membutuhkan keberanian politik untuk menata sektor pertambangan secara menyeluruh. Bukan hanya menutup lubang tambang, tetapi juga membuka jalan hidup yang lebih layak bagi masyarakatnya. Sebab selama “suap nasi” masih menjadi alasan utama, tambang emas ilegal akan selalu menemukan jalannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *