SUARAPOST.ID – Banjir yang melanda Dusun Kapali, Desa Hulawa, pada Selasa, (30/12/2025), memicu berbagai reaksi di tengah masyarakat. Namun, masih banyak pihak yang melihat peristiwa ini secara tidak utuh dan cenderung menyederhanakan persoalan dengan menyalahkan penambang lokal.
Hal tersebut disampaikan oleh Moh Rusli, aktivis dan pemuda Buntulia, yang menilai bahwa penilaian sepihak justru berpotensi menutup akar persoalan yang sesungguhnya.
“Aktivitas penambangan lokal sudah berlangsung cukup lama. Bahkan, para penambang lokal merupakan pihak pertama yang menerima dampak dari perubahan lingkungan, sebelum dampaknya meluas ke wilayah lain,” ujar Moh Rusli.
Ia menjelaskan, perubahan kondisi lingkungan yang signifikan justru mulai terjadi dalam tiga tahun terakhir, sejak dimulainya berbagai pekerjaan infrastruktur dan aktivitas lain yang mengubah kondisi fisik kawasan pegunungan Baginite, Parapani, Ilota, dan Borose. Aktivitas tersebut memicu perubahan ekstrem pada sejumlah daerah aliran sungai (DAS) yang bermuara ke Sungai Alamotu.
Menurutnya, kondisi ini seharusnya menjadi bahan evaluasi dan koreksi bersama, agar sudut pandang terhadap insiden banjir di Dusun Kapali dapat diletakkan secara lebih komprehensif dan objektif.
“Jangan hanya mencari kambing hitam. Yang dibutuhkan saat ini adalah melihat persoalan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir,” tegasnya.
Secara topografis, Moh Rusli menambahkan, Dusun Kapali memang berada pada lintasan Sungai Alamotu dan Sungai Taluduyunu. Dengan posisi tersebut, sedimentasi yang dihasilkan dari berbagai aktivitas di wilayah hulu secara langsung menjadikan dusun ini sebagai daerah yang paling rentan dan terdampak ketika terjadi peningkatan debit air.




















