Oleh : Cindra Harun
Profil : Mahasiswa Ilmu Sosisal Dan Ilmu Politik, Unversitas Pohuwato
SUARAPOST.ID – Kasus dugaan korupsi tata kelola BBM ini menunjukkan masalah yang jauh lebih serius dan kompleks daripada sekadar angka kerugian yang besar. Angka kerugian negara Rp285 triliun itu sendiri mencerminkan bahwa sistem pengelolaan sumber daya energi strategis bangsa kita rentan terhadap praktik yang merugikan rakyat dan perekonomian jika tidak diawasi dengan ketat dan transparan.
Pertama, nilai kerugian yang disebut sangat besar menunjukkan kegagalan tata kelola dan pengawasan internal di sektor energi, khususnya di lembaga-lembaga yang seharusnya menjadi garda terdepan pengelolaan BBM. Ketika manajemen perusahaan negara atau lembaga publik bisa terbuka terhadap celah korupsi dalam proses pengadaan dan distribusi BBM, itu berarti ada kelemahan mendasar dalam mekanisme kontrol internal, tender, dan transparansi harga.
Kedua, kasus ini seharusnya menjadi panggilan bangun serius bagi pemerintah dan lembaga penegak hukum bahwa korupsi di sektor energi bukan hanya masalah hukum, tetapi juga berdampak nyata pada perekonomian negara dan kehidupan sosial masyarakat luas. BBM adalah komoditi yang sangat sensitif—ketika pengelolaannya tidak efisien atau disalahgunakan, efeknya akan terasa pada harga, subsidi, biaya hidup, bahkan daya saing industri.
Ketiga, angka kerugian yang sangat besar ini jangan hanya menjadi headline berita semata, melainkan harus diikuti dengan proses hukum yang adil, audit independen, dan reformasi besar-besaran dalam tata kelola energi. Jika tidak, masyarakat akan kehilangan kepercayaan terhadap institusi publik dan perusahaan milik negara yang seharusnya menjadi motor pembangunan nasional.
Terakhir, saya melihat kasus ini menegaskan bahwa pemberantasan korupsi tidak bisa hanya bergantung pada satu lembaga saja, tetapi memerlukan keterlibatan berbagai pihak: legislatif, eksekutif, yudikatif, serta masyarakat sipil. Transparansi informasi, akuntabilitas pimpinan, serta sistem audit yang kuat harus menjadi fondasi utama agar kejadian serupa tidak terulang lagi.




















